Kamis, 12 Januari 2012

Kin Penara, Lelaki Kecil yang Mengagumkan










Kin Penara, begitulah namanya. Seorang anak dari keluarga miskin di dataran tinggi Gayo.

Ketika berusia sepuluh tahun, ibunya pergi meninggalkan rumah karena sudah tak sanggup hidup dalam kemiskinan, lelah mengurus suami yang lumpuh dan sakit-sakitan. Sejak saat itu, Kin Penara hanya tinggal berdua dengan ayahnya.

Lelaki kecil itu harus mengurus segala keperluan ayahnya, dia pula yang bertanggung jawab untuk mencari uang untuk keperluan rumah tangga. Semua itu tidak mengurangi hasratnya untuk tetap sekolah.

Sungguhpun demikian, semua itu ia lakukan dengan ihlas tanpa pernah mengeluh. Perhatian dan pengabdian pada ayah, kerja keras dan ketegarannya menjalani kesulitan hidup, menimbulkan simpati.

Kin Penara sudah bangun sebelum waktu subuh tiba. Mengambil wudhu lalu berangkat ke musholla untuk mengumandangkan azan. Dari rutinitas yang ia kerjakan setiap pagi itu, ia mendapat upah bulanan dari pengurus Badan Kemakmuran Musholla.



Sebelum berangkat ke sekolah, Kin Penara terlebih dahulu menyiapkan sarapan dan obat yang harus diminum ayahnya. Keluarga ini sedikit beruntung dalam hal pengobatan karena pemerintah daerah memberikan jaminan pengobatan gratis bagi semua warganya.

Setelah berjalan kaki sekitar empat kilometer melewati jalan kecil diantara kebun - kebun penduduk, ia baru sampai kesekolah. Buah, biji-bijian maupun dedaunan yang ia jumpai dalam perjalanan ke sekolah menjadi sarapan paginya. Ia tau mana buah, biji dan daun yang boleh dikonsumsi dan mana yang tidak. Sering juga buah, biji-bijian dan dedaunan itu ia bawa pulang untuk dijadikan sayur.

Selepas sekolah, Kin Penara bertugas mencari rumput untuk pakan ternak milik tetangganya. Upah yang diterima dari pekerjaan ini ia belikan beras, mie instan dan ikan asin.

Kin Penara masih terlalu kecil untuk memikul tugas dan tanggung jawab ini. Apa boleh buat. Ia tak seberuntung anak anak lain yang mendapat kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Akan tetapi kesabaran, ketekunan, keihlasan dan sikap pantang menyerahnya, menjadikan Kin Penara berbeda dengan anak anak lain seusianya. Disaat anak anak yang lain dimudahkan oleh orang tua segala kebutuhannya, Kin Penara justru harus memenuhi kebutuhan diri dan ayahnya.

Kagum dengan kisah kehidupan Kin Penara, seorang wartawan sebuah media online menerbitkan tulisan tentang kisah kehidupan bocah ingusan ini. Tak di nyana, kisah kehidupan Kin Penara mengundang simpati banyak kalangan, apakah saudagar, birokrat, anggota dewan termasuk juga para kandidat kepala daerah, tokoh masyarakat dan para kontraktor. Mereka- mereka ini siap memenuhi semua yang dibutuhkan si bocah dan mendesak pimpinan media itu untuk mengadakan perhelatan malam amal.

Gedung Olah Seni, tempat digelarnya ‘Malam Amal’ itu menjadi saksi betapa masih kuatnya budaya tolong menolong masyarakat negeri ini. Pembacaan puisi, musik dan tari turut memeriahkan acara.

Ketika mata hadirin tertuju pada Kin Penara yang telah berada di atas pentas, si pembawa acara bertanya padanya :

“Kin, Malam ini malam yang istimewa untukmu. Kamu boleh minta apa saja yang kamu inginkan. Disini ada pejabat, pengusaha, saudagar, kontraktor, tokoh masyarakat, anggota dewan, para kandidat kepala daerah yang siap memenuhi apapun yang kamu butuhkan”

Kin Penara hanya diam. Suasanapun hening. Ia terus menatap mata si pembawa acara.

“ Ayo Kin, Kamu tinggal sebut. Mau jaminan biaya pendidikan hingga lulus kuliah. Mau tempat tinggal yang layak. Uang untuk kebutuhan hidup kamu dan ayahmu. Sebutkan berapa jumlah yang kamu butuhkan. Apapun yang kamu impikan kamu tinggal sebut saja” tambah si pembawa acara.

Kin Penara masih diam, matanya berkaca-kaca, lalu dengan suara bergetar ia menjawab

“ Aku mau ibu kembali. Ibu, kembalilah ke rumah. Bukan untuk mengurus ayah, bukan untuk mencari uang. Itu aku bisa melakukannya. Aku rindu, bu”

Suasana mengharu biru. Sebagian yang hadir larut dalam tangis. Gedung Olah Seni menjadi saksi betapa ibu lebih utama baginya ketimbang harta, fasilitas maupun kemudahan-kemudahan.

****

Takengon, 19 Nopember 2011

Fiksi ini terinspirasi dari kisah nyata kehidupan seorang bocah di China yg ditulis Sdr. Ary Syahrial

sumber :http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2011/11/19/kin-penara-lelaki-kecil-yang-mengagumkan/